Minggu, 12 Februari 2012

Essay

Mau Dibawa Kemana Pendidikan Indonesia?
Oleh Imam Abdul Rahman

Saat ini Indonesia dimata dunia masih tergolong sebagai negara berkembang, –atau dalam bahasa kasarnya- tergolong sebagai negara miskin. Namun apakah hal ini karena Indonesia masih bisa dikatakan “Negara Baru Merdeka”?
Dalam kenyataanya umur suatu negara tidak menentukan perkembangan negara tersebut. Contohnya saja India dan Mesir yang umurnya lebih dari 2000 tahun, dan sampai sekarang masih dikategorikan sebagai “Negara Berkembang”.  Disisi lain Singapura yang umurnya masih kurang dari 150 tahun sudah membuktikan kekuatannya untuk menjadi negara maju.
Sama halnya dengan sumber daya alam yang ada di dalam suatu negara, tidak dapat menjamin kemakmuran negara itu sendiri. Jepang yang punya area yang relatif terbatas, 80% daratannya berupa pegunungan yang tidak cukup untuk pertanian. Namun mereka sekarang menjadi raksasa ekonomi dunia.
Satu hal yang dimiliki negara Jepang dan Singapura, yang juga sebagai kunci sukses mereka adalah kualitas sumber daya manusia mereka. Mereka berhasil mengembangkan potensi yang ada dalam diri manusia agar dapat berfikir memanfaat ilmu mereka untuk kemajuan negaranya, meski dalam kondisi yang terbatas. Dapatkah hal tersebut dimiliki oleh Indonesia?
Satu hal yang tak lepas dari kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) dalam suatu negara adalah, bagaimana negara menerapkan sistem pendidikan bagi rakyatnya. Agar kelak dapat membawa negaranya menjadi negara terbaik di mata dunia.
Namun untuk Indonesia? Banyak pihak yang menilai bahwa kurikulum dan sistem pendidikan yang diterapkan oleh Indonesia saat ini dinilai kurang efektif, -bahkan saya katakan disini, buruk-. Kurikulum Indonesia saat ini menuntut siswa untuk mengerti dan menghafal seluruh mata pelajaran yang ada tanpa terkecuali.
Sudah terbentuk “mindset” bahwa orang yang pintar itu adalah orang yang mendapat “nilai besar diatas kertas”. Seorang siswa dituntut dapat mementingkan seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah, karena itulah yang dianggap paling penting. Sedangkan bakat sesungguhnya yang ada dalam diri siswa harus selalu dijadikan nomor 2.
Hasilnya? Kualitas SDM yang dihasilkan Indonesia pun selalu kalah dari negara-negara lain. Toh tenaga kerja Indonesia yang terkenal didunia akhirnya adalah tenaga kerja pembantu yang mau dibayar murah.
Berdasarkan hasil survey dari The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) pada akhir tahun 2001, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada diurutan juru kunci di negara Asia. Jauh dibawah Jepang, Singapura, dan lainnya. Hal ini tidak lain dikarenakan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak efektif diterapkan bagi siswa Indonesia.
Lalu, apa faktor-faktor yang mempengaruhi “buruknya” sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia?
Sebelumnya telah disinggung sedikit mengenai beratnya kurikulum Indonesia yang menuntut siswa mengerti seluruh pelajaran. Jelas sekali bahwa kurikulum Indonesia ini dibuat untuk orang-orang “pintar” saja, bahwa seorang siswa diajak berlari untuk dapat mengikuti semua standar kompetensi seluruh pelajaran. Tidak peduli bagaimana daya serap dan kemampuan dari siswa itu sendiri.
Kenyataannya siswa tidak mungkin dapat paham pada semua pelajaran yang ada. Siswa memiliki spesialisasi pada pelajaran-pelajaran tertentu, yang sayangnya, kurikulum yang berlaku di Indonesia tidak mau tahu soal itu. Yang penting adalah semua siswa harus memenuhi standar pada semua jenis pelajaran. Hasilnya? Siswa terdorong menggunakan segala cara agar dapat melubangi bolong dari kekurangannya.
Hal lainnya adalah, pendidikan Indonesia terlalu terfokus pada ujian tulis dan hafalan. Bukan kemampuan siswa sesungguhnya. Dari mulai syarat kelulusan, seleksi perguruan tinggi, hingga hal-hal lainnya semuanya menggunakan hasil dari test diatas kertas. Ilmu yang didapatkan siswapun hanyalah sekumpulan hafalan teori. Produknya adalah siswa mengerti bagaimana memindahkan jawaban dari buku ke atas kertas ujian tanpa mengerti apa sesungguhnya yang mereka pelajari. Akhirnya semua pelajaran pun kehilangan esensinya untuk menjadi sebuah “pelajaran”.
Satu hal lagi yang cukup lucu terjadi di negeri ini. Indonesia itu bisa dikatakan negara yang tidak konsisten, kurikulum Indonesia senantiasa berubah tiap pergantian Menteri Pendidikan. Mungkin jika perubahan itu ke arah yang lebih baik, akan sangat bagus. Namun nyatanya, kurikulum yang berubah tidak bercermin terhadap kesalahan kurikulum sebelumnya, namun lebih cenderung “meneruskan”.
Hal yang bertujuan awal ingin memajukan pendidikan Indonesia, hasilnya malah mempersulit keadaan yang memang sudah buruk. Kurikulum yang senantiasa berubah menyebabkan siswa dan guru kebingungan. Siswa yang tidak mampu pun terpaksa “harus” membeli buku penunjang (buku paket, dsb) yang baru sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Kesalahannya adalah, pemerintah tidak pernah tahu langsung bagaimana kondisi pelajar di sekolah-sekolah. Pemerintah merasa telah melihat seluruh siswa dapat mengikuti standar kompetensi yang ditetapkan. Akhirnya pemerintah meningkatkan standar kelulusan bagi siswa tiap tahunnya. Pemerintah tidak melihat banyak siswa yang sudah kewalahan mengikuti standar kompetensi yang ada.
Siswa yang terbebani sekian banyak pelajaran akan semakin terbebani seiring ditingkatkannya standar kelulusan sekolah-sekolah di Indonesia. Siswa yang tidak dapat mengikuti standar kompetensi akhirnya terdorong untuk melakukan segala cara agar dapat nilai baik diatas kertas. Seorang siswa yang tadinya mencontek hanya untuk menutupi kekurangannya, akhirnya menjadi kebiasaan dan menghasilkan mental yang buruk untuk seorang generasi penerus bangsa. Dan itulah kenyataan kondisi siswa dilapangan.
            Seorang siswa yang sudah bermental buruk pada akhirnya akan menjadi benih yang buruk untuk bangsa. Dan akan menghasilkan kualitas SDM yang bermunculan di Indonesia saat ini.
            Kesimpulannya, kurikulum Indonesia yang berlaku saat ini dapat dikatakan sangat tidak efektif. Dari mulai tingkat kesulitan tanpa melihat daya serap siswa hingga sistem yang cenderung menuntut siswa “menghafal” bukan “mengerti” apa yang dipelajari. Selama sistem pendidikan Indonesia masih seperti ini, maka kualitas SDM Indonesia di mata dunia masih akan “seperti ini”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar